Menteri Keuangan RI Bambang Brodjonegoro, cerita mengapa rupiah melemah

0
115
Menteri Keuangan RI Bambang Brodjonegoro

Jabatan Menteri Keuangan Republik Indonesia mulai diterima Bambang Brodjonegoro pada 27 Oktober tahun lalu.

Bersama Pemerintahan yang sekarang diluncurkan ‘Paket Kebijakan Ekonomi’ untuk mengatasi daya beli masyarakat yang menurun, nilai tukar rupiah yang melemah, dan dampak lainnya dari masalah ekonomi global yang terjadi saat ini.

Melalui program ‘The Captain’ di Brava Radio 103.8 FM, dengan dituanrumahi Fika Rosemary, Pak Bambang memberikan penjelasan mengenai kondisi ekonomi Indonesia saat ini, dan mengapa nilai rupiah menurun.

Apa yang sebenarnya terjadi pada ekonomi Indonesia saat ini?
“Ini adalah imbas dari perubahan yang cukup mendasar di ekonomi global. Jadi bila melihat di tahun 2010-2012 kenapa ekonomi kita bisa tumbuh begitu tinggi, itu karena adanya stimulus moneter oleh Amerika Serikat yang tujuan utamanya tentu untuk kepentingan mereka sendiri.

“Hanya saja caranya adalah dengan membuat ekonomi global membaik, sehingga dampak dari perbaikan ekonomi global itu nantinya akan berpengaruh ke Amerika lagi.

“Ketika stimulus ini dilakukan di tahun 2009, yaitu istilahnya ‘uang ditabur di dunia’, maka uang-uang itu lari ke emerging market [negara-negara yang sedang menuju menjadi maju]. Sehingga emerging market mendapat berkah dalam pengertian; pertumbuhannya terdongkrak.

“Khusus kita, harga komoditas itu naik luar biasa, dari pertambangan maupun perkebunan. Sehingga kita pernah mengalami pertumbuhan sampai 6,5 persen di 2011, dan 6,2 persen di tahun 2012.

“Setelah itu, ‘kucuran’ dari Amerika sudah mulai turun volumenya. Ditambah lagi di 2013 ada statement kemungkinan akan dihentikan. Maka yang terjadi adalah ‘pembalikan’. Yang diartikan ‘taburan uang’ yang tadinya diserap oleh emerging market, pelan-pelan mulai disedot keluar ke arah Amerika lagi.”

“Inilah yang kita sebut sebagai spekulasi yang mengakibatkan dolar menguat kepada semua mata uang. Kalau kita bicara nilai tukar rupiah hari ini dan mata uang lainnya, ini tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Karena ini adalah hasil dari spekulasi yang mengasumsikan seolah-olah Federal Reserve sudah menaikan tingkat bunga.”

“Jadi, kondisi ekonomi dunia ini bisa kita sebut menuju kondisi normal yang baru. New normal ini akan berlaku untuk semuanya. Ada new normal-nya Amerika, ada new normal-nya China.

“New normal ini sedang mencari bentuk. Saya tidak bisa katakan hari ini adalah kondisi new normal kita atau belum. Ada waktu yang kita butuhkan untuk melihat, new normal kita untuk nilai tukar, new normal untuk pertumbuhan kita, maupun untuk indikator makro lainnya.”

Kira-kira berapa lama lagi waktunya?
“Begitu ada kejelasan mengenai kenaikan tingkat bunga Amerika, kejelasan mengenai arah kebijakan monter Tiongkok, terutama mengenai nilai mata uangnya. Dan selesainya masalah di Eropa dan Jepang. Artinya mereka sudah tidak lagi melakukan ekspansi moneter, maka kita nanti bisa melihat posisi new normal kita, yang tentunya kita berharap mudah-mudahan membuat ekonomi kita kompetitif.

“Itu tugas kita sekarang. Ketika new normal datang kepada kita, masih ada waktu buat kita, new normal yang akan datang ini mau kita bawa ke mana kedepannya. Nah inilah tugas kita melalui paket kebijakan yang kemarin disampaikan.

“Paket kebijakan ini arahnya tidak hanya membereskan atau mencoba menyelesaikan masalah hari ini, jangka pendek, tapi juga bicara masalah ke depan. Supaya new normal itu jalan sesuai dengan keinginan kita.”

Untuk memperkuat kondisi ekonomi tanah air, Pak Bambang juga menekankan mengenai salah satu prioritas penting kemajuan Indonesia, yakni membangkitkan kembali sektor industrialisasi yang pada tahun 90-an pernah berkontribusi kepada PDB sebanyak hampir 30 persen. [teks @bartno | foto Amanda]

SHARE