Waspadai terlalu banyak duduk

0
404

duduk-terlalu-lamaSebuah penelitian sebelumnya menunjukkan orang yang banyak duduk berisiko menghadapi gangguan kesehatan, seperti diabetes tipe 2, obesitas, dan gangguan jantung.

Lalu, studi lainnya menemukan bahwa olahraga rutin tidak memberikan pengaruh terhadap dampak negatif terlalu banyak duduk.

Tetapi, bagaimana dengan kondisi orang yang telah mengalami gangguan kesehatan. Apakah terlalu banyak duduk memperburuk kondisi tubuh mereka? Nah, inilah yang ingin diketahui oleh Dr. Stephanie Prince dan tim dari University of Ottawa Heart Institute di Kanada.

Tim peneliti kemudian melakukan sebuah pengamatan terhadap 278 pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner, yang merupakan penyakit yang paling banyak diderita pria dan wanita di Amerika.

Semua partisipan telah melakukan program rehabilitasi cardiac, untuk meningkatkan level aktivitas fisiknya.

Selama 9 hari, partisipan terus di monitor, mulai dari bangun pagi, berapa lama subjek duduk, dan berapa banyak waktu dilakukan untuk olahraga baik ringan, menengah, atau berat.

Kemudian tim peneliti menemukan bahwa rata-rata partisipan duduk per hari selama 8 jam. Dan pria duduk lebih lama 1 jam daripada wanita. Karena wanita lebih banyak melakukan kegiatan ringan lain seperti pekerjaan rumah tangga.

Kesimpulannya, tim peneliti menemukan, subjek yang menghabiskan waktu duduk lebih lama maka tingkat body mass index-nya [BMI] lebih tinggi dan cardiorespiratory fitness-nya rendah, lewat pengukuran VO2.

Cardiorespiratory fitness adalah kemampuan jantung dan paru-paru dalam melakukan aktifitas kerja dalam waktu lama tanpa mengalami gangguan berarti.

“Dalam kata lain, orang yang duduk lebih lama berarti lebih berat dan kurang bugar. Tidak peduli berapa lama waktu olahraga mereka,” jelas Dr Prince, sebagaimana dilansir medicalnewstoday.

Lanjutnya, “Membatasi waktu duduk Anda mungkin sama pentingnya dengan jumlah olahraga yang dilakukan.”

Lewat hasil penelitiannya, Dr Prince berharap semoga informasi ini, yang telah diterbitkan dalam European Journal of Cardiovascular Prevention dapat dijadikan langkah baru dalam rehabilitasi program penderita jantung. [foto hackcrow.com]

Sumber:

Brava

SHARE